Melihat Dari Dekat Suku Dayak Hindu-Budha Indramayu, Terasing di Tempat yang Asing

Bramantyo
.
Kamis, 22 September 2022 | 22:56 WIB
Salah satu warga Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu tengah memasangkan gelang tanda pengenal masuk ke komunitasnya (Foto: iNewsbadung.id/Bramantyo)

INDRAMAYU,iNEWSBADUNG.ID - Terasing di Tempat yang asing, mungkin itulah yang dirasakan oleh Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu atau biasa disebut Suku Dayak Losarang.

Mereka hidup berkelompok ditengah perkampungan padat didaerah pinggiran Indramayu, tepatnya di Desa Krimun, Losarang. Kelompok yang didirikan oleh Ta'mad atau Takmad Diningrat pada tahun 1970-an ini mempercayai suatu ajaran bersama. 

Kesibukan layaknya menggelar sebuah pesta pernikahaan, terlihat di perkampungan yang dihuni oleh sekelompok orang  yang hanya menenakan celana pendek bermotif hitam putih dan tanpa menggunakan baju di Dusun Segandu, Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat atau berjarak sekitar 30 KM dari pusat kota Indramayu.

Terlihat beberapa pria tengah sibuk menyapu halaman rumah yang ukurannya lumayan besar, dan membersihkan tempat yang di atasnya terdapat kubah bulat berukuran raksasa. Sedangkan penghuni lainnya, terlihat tengah menyiapkan buah-buahan dan kelapa muda di sebuah baskom berukuran cukup besar.

Sedangkan kaum perempuannya, tidak terlibat dalam kesibukan yang dilakukan kaum laki-laki. Yang  perempuan terlihat baru saja selesai mandi di sungai yang letaknya ada disamping perkampungan tersebut.

Aktivitas para penghuni ini terhenti sejenak, saat saya memasuki sebuah halaman rumah yang mereka sebut dengan pendopo. Beberapa ornamen lukisan hewan, seperti kerbau, kuda, naga dan aksara bahasa Jawa Cirbonan terpampang di tembok warna merah serta gapura masuk.

“Silahkan masuk. Kendaraannya dibawa masuk saja kedalam,” sapa seorang yang berasal dari komunitas tersebut dengan bahasa Jawa Cirbonan.

Awalnya, komunitas yang diketahui sebagai Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu sangat berhati-hati terhadap orang yang baru dikenalnya. Namun, setelah melihat gelang dan kalung mirip tasbih yang terbuat dari biji jola jali yang saya kenakan, kecurigaan mereka hilang dan mempersilahkan saya untuk masuk menemui komunitas lainnya.

Termasuk menemui Kepala Suku Eran Takmad Diningrat Gusti Alam, yang saat itu duduk di tengah-tengah masyarakat anggota suku lainnya.

Setelah saya mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan, Eran Takmad Diningrat Gusti Alam menjelaskan bila kesibukan yang terlihat ini,untuk menjalani ritual rutin minggu pertama diawal bulan,atau setiap malam Jumat kliwon.

Ritual rutin yang selalu dilakukan dan diikuti seluruh masyarakat Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu adalah topo bisu di dalam air selama 8 jam yang dimulai tepat tengah malam dan berakhir keesokan harinya pukul 8.00 dan dilanjutkan kembali dengan ritual topo pepe atau ritual berjemur sambil tidur terlentang tanpa menggunakan alas apapun ditengah terik matahari, yang dimulai pukul 11.00 dan baru berakhir pukul 20.00.

“Ritual ini kami gelar selama 4 bulan 5 hari secara berturut-turut. Tujuannya untuk mendekatkan diri kepada alam semesta raya, serta sebagai bukti kepasrahaan kami terhadap alam,” kata Eran di Losarang, Indramayu.

Perkumpulan Pencak Silat

Sebelum melanjutkan pembicaraan, Eran mempersilakan saya untuk menginap di rumah Panglima Perang Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu,Tarxim Bin kalsim.

Halaman : 1 2 3 4
Bagikan Artikel Ini