BADUNG, iNewsbadung. id - Di balik hiruk pikuk penayangan film horor Pabrik Gula tersembunyi sebuah tradisi unik yang kaya akan makna yaitu Manten Tebu.
Ritual Manten Tebu ini bukan sekadar perayaan panen, tetapi juga simbol kesuburan dan harapan akan musim giling yang sukses.
Esensi Tradisi Manten Tebu
Manten Tebu, atau "pengantin tebu," adalah upacara adat yang dilakukan untuk menyambut musim giling di pabrik-pabrik gula di Jawa. Tradisi ini melibatkan sepasang tebu terbaik yang dipilih dan diperlakukan layaknya pengantin manusia.
Prosesi Sakral Manten Tebu
Pemilihan Tebu: Dua batang tebu terbaik dipilih, mewakili kesatuan antara petani dan pabrik gula. Kemudian layaknya manusia tebu-tebu tersebut didandani, diberi nama, dan dinikahkan dalam sebuah upacara sakral.
Selanjutnya dilakukan arak arakan dimana pasangan tebu diarak menuju tempat penggilingan, diiringi oleh puluhan tebu lain sebagai simbol pengiring pengantin.
Selanjutnya, sepasang tebu itu secara bersamaan diletakan di penggilingan tebu bersama tebu lainnya, menandai dimulainya musim giling.
Makna Mendalam Manten Tebu
Tradisi ini sarat akan makna simbolis sebagai ungkapan syukur atas hasil panen tebu yang melimpah. Sehingga muncul harapan akan kelancaran dan kesuksesan musim giling.
Sekaligus simbol kesatuan dan kerja sama antara petani dan pabrik gula. Dan penghormatan terhadap alam dan tradisi leluhur.
Film "Pabrik Gula": Mengangkat Tradisi dan Misteri
Film horor "Pabrik Gula" yang disutradarai oleh Awi Suryadi, mengangkat tradisi Manten Tebu sebagai latar belakang cerita.
Film ini mengisahkan tentang Wati, seorang wanita yang menyusul tunangannya bekerja di sebuah pabrik gula dan mengalami kejadian-kejadian mistis.
Editor : Bramantyo